Selasa, 15 Juli 2008

BIRD STRIKE DI BANDAR UDARA JUANDA
SURABAYA


I. LATAR BELAKANG
Secara geografis Bandar Udara Juanda terletak pada koordinat 07°22′51″ lintang selatan dan 112°47′11″ bujur timur dengan elevasi 3 m dari permukaan air laut. Kawasan Bandar Udara Juanda terbagi atas landasan (dimensi 3.000 x 45 m2), taxiway (luas 161.108,4 m2), apron (luas 118.161 m2), parkir kendaraan (luas 53.600 m2), terminal (luas 60168 m2) dan peralatan GSE (luas 9.409 m2), secara keseluruhan luasnya 680 ha (PT. Angkasa Pura, 2007).
Kondisi lahan yang berupa dataran terbuka tersebut banyak di tumbuhi rerumputan dan semak serta terdapat beberapa kolam air sebagai drainase. Rerumputan dan kolam air tersebut banyak menyediakan makanan dan menyebabkan berbagai jenis burung datang pada area tersebut. Menurut Solman (1971), di tengah perkembangan industri yang menyebabkan kerusakan habitat, bandar udara menyediakan lingkungan yang stabil sebagai ruang perlindungan dan makanan bagi hewan liar. Burung merupakan organisme yang mempunyai kemampuan untuk terbang dan mampu menempati semua habitat (Jasin, 1989). Kehadiran burung di ruang udara diketahui menjadi pengganggu dalam dunia penerbangan dengan istilah bird strike (gangguan burung). Mantijaca (2000) menyebutkan tabrakan antara burung dan pesawat dalam terminologi lalu-lintas udara dikenal dengan bird strike.
Bird strike (terkadang disebut birdstrike, bird hit, atau BASH (Bird Aircraft Strike Hazard)) dalam penerbangan berarti tabrakan antara seekor binatang yang terbang (biasanya burung) dengan kendaraan buatan manusia , khususnya pesawat udara. Hal ini merupakan ancaman yang umum terhadap keselamatan pesawat udara, dan telah menyebabkan banyak kecelakaan yang fatal.
Bird strike seringkali terjadi saat tinggal landas (take off) ataupun mendarat (landing), atau saat terbang rendah. Akan tetapi, bird strike juga dilaporkan terjadi pada ketinggian 6000 hingga 9000 meter diatas permuakaan tanah. Tabrakan antara burung dengan pesawat udara paling banyak terjadi didekat bandar udara (90%, menurut data dari ICAO) saat take off, landing dan fase-fase terkait (circuit, taxi, rolling, dll). Menurut manual FAA manajemen terhadap gangguan binatang liar tahun 2005, kurang dari 8% gangguan terjadi diatas 900 meter dan 61% terjadi kurang dari 30m (100 kaki). (wikipedia)

II. BIRD MANAGEMENT
Untuk mengurangi bird strike pada saat take off dan landing, pihak bandar udara melakukan manajemen terhadap gangguan burung beserta pengendaliannya. Hal ini termasuk perubahan terhadap habitat disekitar bandar udara untuk mengurangi ketertarikan burung-burung tersebut. Vegetasi yang menghasilkan biji-bijian, makanan buatan manusia, semuanya harus disingkirkan dari wilayah bandar udara. Pepohonan dan bangunan tinggi yang merupakan tempat tinggal kawanan burung di malam hari harus di singkirkan atau dimodifikasi untuk menghalau penggunaannya oleh burung-burung tersebut.
Pendekatan yang lain adalah menakut-nakuti kawanan burung tersebut dengan menggunakan alat yang dapat menakuti burung-burung tersebut. Sebagai contoh dengan menggunakan suara, cahaya, pyrotechnics, pesawat radio control, binatang umpan/bangkai, laser, anjing, dll.
Dalam hal ini Bandar Udara Juanda telah melakukan kegiatan yang dapat mengusir kawanan burung-burung tersebut dari area Bandar Udara dengan menggunakan 1 unit mobil Bird Strike. Mobil tersebut dilengkapi empat corong yang mengeluarkan suara untuk mengusir burung di sekitar landasan.
Tidak hanya itu, pihak bandar udara juanda juga meminta bantuan dari pihak angkatan laut untuk mengusir burung-burung dari wilayah Bandar Udara Juanda, Surabaya. Namun walaupun sudah dilaksanakan secara berkelanjutan, kawanan burung tersebut setiap hari tetap berada di area bandar udara juanda.
Hal ini dikarenakan Bandar Udara Juanda merupakan habitat asli burung-burung tersebut. Yang mana akan sangat sulit untuk memindahkan habitat alamiah hewan secara permanen, terutama burung. Terlebih di area sekitar bandara terdapat tambak ikan (bandeng ) yang secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab utama tertariknya burung-burung itu tinggal dan menuju Bandar Udara Juanda.

III. DATA & FAKTA KECELAKAAN AKIBAT BIRD STRIKE

Musim panas 2007
Pesawat delta Air Lines B-767 mengalami kecelakaan di Roma, Italy, pada saat take-off, menabrak burung camar berkaki kuning kedalam kedua mesinnya. Walaupun pesawat tersebut dapat kembali ke Roma dengan selamat, kedua mesinnya mengalami kerusakan yang serius dan harus diganti.

Musim semi 2007
United Air Lines B-767 mengalami bird ingestion pada kedua mesinnya pada saat berangkat dari bandar udara Chicago O’Hare. Salah satu mesinnya mengeluarkan api dan bangkai burung ditemukan di mesin yang lain.

29 April 2007
Pesawat Boeing 757, Thomsonfly terbang dari bandar udara Manchaster, UK menuju bandar udara Lanzarote, Spanyol mengalami bird strike saat setidaknya seekor burung menyangkut di mesin sebelah kiri. Pesawat tersebut mendarat dengan selamat dan kembali ke bandar udara manchaster sesaat setelahnya. Insiden ini tertangkap oleh kamera dan videonya kemudian di publikasikan.

Kamis 7 Desember 2006
Pesawat Kepresidenan Boeing 737-200 TNI Angkatan Udara yang membawa Wakil Presiden Jusuf Kalla dan rombongan menuju Bali, menabrak seekor burung, saat lepas landas dari pangkalan TNI AU Halim Perdanakusumah, Jakarta. Hal ini menyebabkan rombongan merasakan goncangan. Bahkan jilatan api di mesin sebelah kanan terlihat, disusul bau daging terbakar.

15 Oktober 2006
Pesawat Alliance Air mendarat darurat di sebuah bandara di negara bagian Rajasthan setelah mesinnya kemasukan burung manyar.
Akhir Desember 2005
Pesawat jet pribadi milik pembawa acara ternama Oprah Winfrey dipaksa mendarat kembali ke airport Santa Barbara, California, lantaran bertabrakan dengan burung. Kaca depan jet tersebut sampai retak.
18 Agustus 2005
Pesawat Jet Airways, yang seharusnya terbang ke kota Bangalore, India selatan, melakukan pendaratan darurat di Bandara New Delhi tak lama setelah lepas landas karena ditabrak burung.
29 Januari 2003
Mesin kiri pesawat Mandala Airlines RI 293 mati ketika lepas landas di Bandara Ahmad Yani, Semarang, akibat kemasukan burung. Pesawat ini mengangkut 129 jamaah haji ONH Plus. Burung itu menyebabkan mesin mati dan pesawat mendarat kembali dengan satu mesin. Apesnya, ketika mendarat, roda pesawat terkunci sehingga mengganggu penerbangan lain yang akan terbang maupun mendarat. Burung ini terhisap masuk mesin pesawat ketika pesawat melintasi serombongan burung bangau.
Pesawat Boeing 737-400 yang ditumpangi para pemain Real Madrid terpaksa mendarat kembali ke Bandara Sheremetyevo, Moskow, setelah lepas landas. Hal itu terjadi karena burung yang masuk ke mesin pesawat menimbulkan percikan api dan bau kebakaran. "Ini pengalaman paling menakutkan sepanjang hidupku," tutur gelandang Los Merengues, Ivan Helguera.
1960
Prof Dr Hadi S Alikodra Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, Bogor, dalam tulisannya di Kompas pada 8 September 2003, menulis sejumlah kecelakaan penerbangan akibat terjangan burung. Tahun 1960, misalnya, pesawat penumpang jenis Electra di AS bertabrakan dengan burung. Akibatnya 62 orang tewas.
Di AS tahun 1960 saja korban tabrakan burung tercatat 89 tewas dan 32 luka parah. Sebagai gambaran, di AS lumayan banyak jumlah pesawat yang mengalami kecelakaan akibat burung camar yang masuk ke mesin burung besi yang sedang terbang.
Tercatat pesawat V Viscount, Falcon-20, Lear-24, C Citation, Sabreliner, dan DC 10 mengalami kecelakaan akibat BS.
Sementara itu, di Inggris terjadi dua kali kecelakaan pesawat terbang, pertama menimpa pesawat Falcon-20 dan pesawat HS-125. Penyebabnya terkena tabrakan burung camar.
Adapun di Pakistan, burung elang memecahkan kaca kokpit pesawat Dakota DC-3 dan di Peru, juga burung elang, menyebabkan kecelakaan pesawat jenis F-5.


Tidak ada komentar: